Wednesday, February 13, 2008

Fakta Tentang Teresa Teng

penyanyi legendaris taiwan teresa teng
Teresa Teng (1953 - 1995) bisa dibilang merupakan penyanyi Chinese yang paling terkenal dan berpengaruh sampai saat ini (2016). Pada tahun 1999, Teresa Teng dan Bruce Lee dimasukkan ke dalam daftar majalah TIME sebagai 100 orang paling berpengaruh abad ini.

Ada kutipan yang terkenal “Dimana disana ada orang Chinese, lagu Teresa Teng bisa ditemukan”. Penyanyi asal Taiwan ini dikenal hingga hari ini karena lagu-lagunya yang merakyat dan bernada balada romantis. Alunan suara emas nya yang lembut dan merdu menjadi ciri khas di setiap lagunya. Suara Teresa Teng digambarkan mampu menarik, mengesan dan menghipnotis para pendengarnya. Dan menurut saya tidak hanya itu, suara Teresa Teng ketika bernyanyi juga merupakan salah satu suara yang paling feminin, merdu, lembut, sekaligus elegan.

Entertainer legendaris ini sangat populer di Taiwan, Hongkong, Jepang, Singapura, Malaysia, Indonesia, Thailand dan di komunitas Tionghoa di seluruh dunia khususnya pada 70 dan 80-an. Teresa Teng, atau kadang ditulis Teresa Tang, Teresa Deng, atau Deng Li-jun, meninggal pada 8 Mei 1995 (usia 42 tahun) akibat serangan asma akut pada saat berlibur di Chiang Mai, Thailand. Ia dimakamkan bagai seorang pahlawan, dengan bendera Taiwan menutupi peti matinya dan Lee Teng-hui, presiden Taiwan pada saat itu, menghadiri pemakamannya.

Lagu Teresa Teng direkam tidak hanya dalam bahasa Mandarin, tapi juga dalam Bahasa Indonesia, Vietnam, Kanton, Jepang, Hokkien, dan Inggris. Dua lagunya yang paling mendunia termasuk The Moon Represents My Heart dan When Will You Return. Menjelang hari kasih sayang di China, Bahkan Bon Jovi penyanyi asal Amerika membuat single lagu yang berbahasa Mandarin yaitu "The Moon Represents My Hearts". Bisa dibilang ini termasuk langka dan baru pertama kali ada pernyanyi dari barat membuat single lagu klasik Tiongkok.


Pada awal 1980an, ketegangan politik antara Taiwan dan China mengakibatkan lagu Teresa bersama penyanyi lain dari Taiwan dan Hongkong di ban selama beberapa tahun di China karena dianggap terlalu "borjuis". Meskipun demikian, popularitas Teresa Teng terus meningkat berkat pasar gelap. Lagu musiknya terus diputar dimana-mana, dari nightclub sampai ke gedung-gedung pemerintah, sehingga larangan lagunya pun akhirnya dicabut.

diva asia penyanyi paling berpengaruh
Karena memiliki nama keluarga yang sama dengan Deng Xiaoping, Penyanyi yang lahir di bulan Aquarius ini dijuluki "Little Deng". Dikatakan bahwa ketika pemimpin komunis (Deng Xiaoping) memimpin China di siang hari, penyanyi Teresa Teng memimpin China pada malam hari. Teresa Teng, Agnes Chan, Yu Yar, Ouyang Feifei dan Judy Ongg semua dianggap sebagai "Lima Besar Diva Asia" selama tahun 1970 - 1980an tapi lagu Teresa Teng tetap yang paling populer.

Gunther Mende, Mary Susan Applegate dan Candy de Rouge menulis lagu "The Power of Love" untuk Jennifer Rush. Teresa Teng menyanyikannya dan membuat lagu itu terkenal di kawasan Asia. Dia awalnya menyanyikannya di sebuah Konser di Tokyo - delapan tahun sebelum dinyanyikan dan dirilis oleh Celine Dion.

Dikagumi oleh rakyat dari kedua negara yang bersitegang, China dan Taiwan, Teresa Teng pada tahun 1989 mengadakan konser secara terang-terangan di Paris dan Hongkong untuk mendukung pergerakan mahasiswa dan pelajar melawan pemerintah RRC yang berpuncak pada kerusuhan di lapangan Tiananmen.

Meskipun Teresa Teng tampil di banyak negara di seluruh dunia, ia tidak pernah tampil di China. Partai Komunis China akhirnya mengundang dia pada tahun 1990an tetapi Teresa tidak pernah melakukannya.

Pada Februari 1979, gara-gara memiliki paspor palsu Republik Indonesia, Teresa dicekal masuk ke Jepang. Ia kemudian terbang ke Amerika untuk mengambil kelas singkat bahasa Inggris. Dari sana jugalah dikabarkan mulainya hubungan mesra antara Teresa Teng dan Jackie Chan. Jackie berangkat ke Amerika untuk menggarap film barunya.

Patung lilin Teresa Teng pun dibuat dan dipajang pada bulan Mei 2002 di museum lilin Madame Tussauds di Hongkong.

Awal Perjalanan Hidupnya

perjalanan hidup teresa teng
Teresa Teng lahir di desa Tianyang, Baozhong Township, Yunlin, Taiwan pada 29 Januari 1953. Ayahnya seorang tentara Angkatan Bersenjata Republik China dari Daming, Hebei sedangkan ibunya dari Doungping, Shandong. Teresa Teng adalah satu-satunya perempuan dari 4 bersaudara, 3 kakak dan seorang adik. Pernah bersekolah di SMA Putri Ginling di Sanchoung Township, Taipei County.

Pada saat muda, Teresa Teng memenangkan penghargaan untuk bernyanyi di kompetisi bakat. Pada tahun 1964, hadiah besar pertama diraihnya ketika menyanyikan lagu 'Visiting Yintai' dari Shaw Brothers Hwangmei film opera, The Love Eterne, dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Broadcasting Corporation of China. Tidak lama setelah itu, Teresa mampu mendukung keluarganya dengan bernyanyi. Berkembangnya ekonomi manufaktur Taiwan di tahun 1960an membuat pembelian rekaman lebih mudah untuk banyak keluarga. Teresa Teng berhenti dari sekolah tinggi dengan persetujuan ayahnya karena ingin mengejar cita-citanya sebagai penyanyi.

Kepergiannya

Saat-saat sebelum meninggal, ada yang bilank Teresa pingsan dengan keadaan masih telanjang di lorong Imperial hotel sambil memegang inhaler. Ia meninggalkan kamarnya dan merangkak di sepanjang koridor mencari bantuan dan sempat memanggil "mama", kata-kata terakhir yang didengar oleh para staff hotel. Koran Thailand juga sempat mempublikasi foto mayat Teresa yang masih telanjang dan melaporkan bahwa terdapat memar-memar di sekitar wajah, kepala, leher dan kaki. Pacarnya yang bernama Paul asal Perancis saat itu sedang keluar, rumor beredar bahwa mereka sempat mengalami argumen sebelum Paul keluar sekitar jam 3.30 siang.

Kisah Asmara

Meskipun jenjang karir dan popularitasnya  terus meningkat namun sayangnya urusan percintaan Teresa Teng tidak begitu beruntung.

Cinta pertama Teresa Teng adalah Lim Zhen Fa, seorang putra dari taipan kasino asal Malaysia Lim Shui Chen. Pada ssat itu Teresa hanya berumur 19 sedangkan kekasihnya 8 tahun lebih tua. Sayangnya hubungan mereka tidak sampai ke pernikahan dan pria tersebut meninggal akibat serangan jantung. Pada tahun 1976, pada konsernya di Hong Kong, Teresa menyanyikan lagu "Goodbye my love" dan sempat menangis lalu menutup mulutnya dengan tangannya. Ia lalu melap air matanya dengan jari di pipi dan melanjutkan bernyanyi.

teresa teng menangis kekasih
Pada tahun 1979, aktor Hongkong terkenal Jackie Chan jatuh hati dengannya dan mengejar Teresa Teng. Namun menurut Jackie di buku autobiografi nya Teresa merupakan wanita pendiam, manis, pemalu, lembut, sopan, sedangkan Jackie adalah tipe orang yang cerewet, kasar, dan vulgar. Mereka berpisah karena kepribadian mereka yang berbeda. Jackie berakhir dengan wanita lain asal Taiwan yang juga merupakan aktris, Joan Lin Fong Chiao (yang dinikahinya setelah dia hamil). Ini menimbulkan pertanyaan apakah Jackie berpacaran dengan dua superstar Taiwan pada waktu yang bersamaan?

teresa teng berpacaran dengan jackie chan

Pada Februari 1982, Teresa Teng yang berusia 29 tahun mengumumkan pertunangannya dengan Beau Kuok, anak pertama dari miliarder asal Malaysia bernama Robert Kuok, dijuluki juga dengan "Raja Gula". Mereka juga Pemilik Shagri-La hotel. Pernikahan telah dibahas dan direncanakan, namun Teresa Teng sangat keberatan dengan persyaratan dari keluarganya yang mengharuskan ia untuk memberikan rincian informasi tertulis tentang semua hubungan masa lalunya dan pacarnya. Dia juga harus menghentikan semua hubungan dari dunia hiburan.

kisah asmara cinta teresa teng

Pada tahun 1989 Teresa bertemu Quilery Paul Puel Stephane di Paris. Paul berusia 21 tahun sedangkan Teresa 36 tahun. Paul adalah seorang fotografer dan Teresa memang hobi difoto sejak ia masih kecil. Teresa pernah berkunjung ke studio rekaman miliknya, mereka berdua saling jatuh cinta dan akhirnya berpacaran selama 6 tahun. Awalnya Teresa selalu didampingi oleh asisten pribadinya ketika berkencan tetapi seiring waktu setelah hubungannya makin dekat Paul menyuruh Teresa untuk tidak membawa pendamping pribadinya. Paul kemudian berhenti dari pekerjaannya sehingga bisa menemani Teresa secara fulltime.



Reinkarnasi Teresa Teng?

Vanatsaya Viseskul, seorang gadis berusia 16 tahun dari Thailand muncul di reality show talent terkenal - "The Voice of China" di Beijing, membuat kagum semua judges dan penonton oleh suaranya yang sama, bahkan orangnya juga dengan penyanyi legendaris Teresa Teng. 

Vanatsaya Viseskul, awalnya tidak bisa berbahasa Mandarin, mulai tertarik menyanyikan lagu Teresa pada saat ia berusia hanya 7 tahun. Ia pun memberitahu para judges di acara tersebut bahwa dia bisa bernyanyi lagu Teresa setelah mendengar lagunya 2-3 kali. Dia belajar 25 lagu Teresa Teng hanya dalam waktu 3 bulan.

Dalam salah satu wawancara, dia mengatakan dia memiliki perasaan khusus terhadap Teresa Teng (yang tentunya dia belum pernah bertemu) setelah pertama kali mendengar lagu Teresa Teng. Vanatsaya Viseskul bahkan memberitahu orang tuanya dia ingin belajar Mandarin dan berkunjung ke Taiwan di mana Teresa Teng lahir suatu hari. 

Berikut videonya:


1 comment:

  1. lucunya, setau sy lokasi tai lalat di VV dan TT pun sama..

    ReplyDelete